Bitcoin penciptaan mata uang serta transparansi dalam setiap

Bitcoin
merupakan mata uang kripto dan mata uang alternatif potensial untuk mata uang
flat seperti Dolar AS, Yen Jepang dan Euro. Bitcoin memiliki berbagai
keunggulan seperti memiliki biaya yang rendah atau bahkan tidak dipungut biaya
sama sekali, algoritma yang terkontrol dan diketahui dalam penciptaan mata uang
serta transparansi dalam setiap transaksi. 
Bitcoin telah muncul sebagai fenomena yang menarik di Pasar Keuangan.
Tanpa adanya otoritas sentral yang mengeluarkan mata uang tersebut yang disebut
 membuat Bitcoin menjadi perbincangan
kontroversial sejak munculnya popularitas mata uang kripto tersebut, dibarengi
dengan meningkatnya ketertarikan publik. Sejak pertama kali diuraikan dalam
artikel karya Nakamoto (2008) dan muncul secara online tahun 2009, harga Bitcoin
meningkat hingga mencapai 5000% sampai Juli 2016.

Meski
demikian Urquhart (2016) menyatakan dalam artikelnya bahwa Bitcoin merupakan asset
investasi yang terbilang masih baru dan masih dalam tahap awal. Hal ini berarti
bahwa Bitcoin memiliki inefisiensi yang kuat, serupa seperti pasar yang terus
menerus berkembang harga Bitcoin akan mengalami fluktuasi sesuai dengan keadaan
perekonomian. Sementara itu Cheah & Fry (2015) menyimpulkan 3 hal dalam
artikel ilmiahnya mengenai Bitcoin, yang pertama adalah bahwa Bitcoin seperti
kelas asset lainnya rentan terhadap gelembung spekulatif yang berarti bahwa
perdagangan atau pertukaran Bitcoin dalam skala besar memiliki harga yang
sangat berbeda dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam Bitcoin. Ahli
ekonomi menggunakan istilah “gelembung” untuk peningkatan harga aset
secara ekstrem berdasarkan harapan kenaikan harga pada masa depan dan tanpa
dukungan fundamental ekonomi, dan lazimnya diikuti kenyataan yang bertolak
belakang dari harapan, dan anjloknya harga-harga. Kedua komponen yang
terkandung dalam gelembung spekulatif Bitcoin cukup besar dan yang ketiga,
nilai dasar Bitcoin adalah nol.

Berita
yang dilansir oleh liputan 6.com dan Serambi Indonesia mengenai riset terbaru
yang dilakukan Morgan Stanley yaitu bank investasi dan broker retail yang berbasis
di New York mengemukakan fakta baru yang mengejutkan mengenai bitcoin. Analis James
Faucette menilai bahwa Bitcoin berbeda dari mata uang yang beredar di pasaran
dan barang berharga lainnya oleh karena itu sangat sulit untuk menentukan nilai
dasar dari cryptocurrency.

“(Mata
uang digital) tidak seperti mata uang, tidak seperti emas, dan sulit untuk
ditimbang (nilainya),” ujar Faucette seperti dikutip dari Business
Insider, Selasa (26/12/2017).

Mata
uang digital ini tidak menggunakan nilai intrinsik seperti emas dalam perhiasan.
Selain Faucette, Guru besar Yale University, Stephen Roach beranggapan bahwa
konsep bitcoin ini beracun bagi para investor, dikarenakan cryptocurrency dapat berada dalam kondisi yang spekulatif sehingga
sangat berbahaya bagi investor. Roach adalah mantan kepala urusan Asia dan
chief economics di bank investasi Morgan Stanley. Kariernya selama 30 tahun di
Morgan Stanley menjadikannya salah satu ekonom paling berpengaruh di Wall
Street,New York.

“Saya
tidak pernah melihat diagram sekuritas di mana harga membentuk pola vertikal.
Dan Bitcoin adalah pola paling vertikal yang pernah saya lihat sepanjang karier
saya,” tambahnya.

Sebagai
informasi, nilai Bitcoin saat berita dipublikasikan pada 26 Desember 2017
adalah US$ 14.400 atau setara dengan Rp 195 juta. Di minggu ini nilai Bitcoin
juga sempat merosot tajam karena munculnya mata uang digital lain yaitu Bitcoin
Cash.

Menurut
Kristoufek,L (2015) dalam artikel ilmiahnya mengenai perubahan harga pada
Bitcoin yang berjudul “What Are the Main Drivers of the Bitcoin Price? Evidence
from Wavelet Coherence Analysis” mengemukakan temuan yang menarik. Pertama
walaupun Bitcoin dianggap sebagai asset spekulatif murni namun ternyata factor fundamental
standar- penggunaan dalam perdagangan, jumlah uang yang beredar serta tingkat
harga berperan dalam perubahan harga Bitcoin jangka panjang. Kedua, kenaikan
harga Bitcoin akan memicu investor untuk menjadi penambang, namun seiring
berjalannya waktu efek tersebut akan hilang karena perangkat keras dalam
pertambangan dan perangkat khusus mendorong tingkat kesulitan yang terlalu
tinggi. Meski demikian ini adalah suatu reaksi pasar standart untuk menanggapi
suatu keuntungan yang dapat diprediksi. Ketiga, nilai Bitcoin sangat didorong
oleh minat investor pada mata uang kripto. Hubungan ini sangat terbukti pada
waktu jangka panjang, tetapi selama masa harga yang melambung tinggi akan
menaikkan harga Bitcoin juga, namun bila terjadi penurunan harga yang sangat
cepat juga akan menurunkan nilai Bitcoin secara drastis.

Dalam
penelitian Kim,T (2015) menggunakan mata uang game virtual yang juga mirip
dengan Bitcoin, desentralisasi bukan menjadi factor utama penyebab
ketidakstabilan Bitcoin selama masa-masa penelitian tersebut, melihat bahwa
mata uang game virtual juga tidak dikelola oleh entitas pemerintah. Mata uang
game virtual yang lebih matang ternyata memiliki volatilitas harga sepertiga dari
Bitcoin, pada level yang sama dengan ukuran lebih kecil. Dengan persaingan yang
lebih banyak diantara pertukaran mata uang virtual, biaya transaksi dapat turun
lebih jauh sehingga membuat mata uang virtual alternatif memiliki biaya yang
lebih rendah daripada dengan transaksi mata uang riil. Para ekonom sepakat
bahwa mata uang yang berfungsi dengan baik harus mencakup metode transaksi,
unit akun, dan nilai Bitcoin mungkin memenuhi kriteria jika dapat menggabungkan
biaya transaksi yang rendah dengan harga yang lebih stabil.

Harga
Bitcoin dapat menjadi stabil seiring dengan berjalannya waktu. Namun perlu
diingat bahwa Bitcoin merupakan mata uang kripto yang baru-baru saja muncul
yang berusaha menggantikan peran mata uang riil.

Volume
perdagangan Bitcoin yang besar pada hari-hari ini adalah perdagangan
spekulatif, bertaruh pada kemungkinan apresiasi harga Bitcoin. Perdagangan
spekulatif diperlukan untuk menemukan nilai tukar wajar Bitcoin, namun tidak
diketahui kapan pasar akan mencapai ekuilibrium, berbagai peraturan yang
diberlakukan pada pertukaran Bitcoin dapat menjadi faktor menyeret dalam proses
penemuan harga. Sesuatu hal yang wajar bila ditemukan pengelompokan harga yang
lebih tinggi terjadi pada bursa penjulan yang lebih tinggi.